BUDIDAYA KERANG ABALONE (Haliotis Assinina) Oleh: Khoironi, S.Pi, M.Si (Widyaiswara PPPPTK Pertanian) dan Baik R.
Wednesday, March 21st, 2012 | by Admin SIAP Dinas VEDCA Beri komentar
Filed under Artikel,Berita Dinas - dibaca 2,450 kali
Filed under Artikel,Berita Dinas - dibaca 2,450 kali
I. Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara kepulauan, 2/3 wilayahnya terdiri dari perairan. Hingga saat ini banyak Sekolah Perikanan dan kelautan yang mengelola unit produksi budidaya ikan laut, diantaranya adalah budidaya kerang abalone, sehingga sangat penting informasi ini untuk diketahui kepada para guru dan pelaku unit produksi kerang tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, budidaya Abalone berkembang dengan pesat di Indonesia. Salah satu jenis Abalone yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah Abalone mata tujuh (Haliotis assinina). Indonesia merupakan daerah yang cocok untuk perkembangan abalone mata tujuh (Haliotis assinina).
Daging abalone mempunyai gizi yang cukup tinggi dengan kandungan protein 71,99%; lemak 3,20%; serat 5,60%, abu 11,11%; dan kadar air 0,60% serta cangkangnya dapat digunakan untuk perhiasan, pembuatan kancing baju dan berbagai bentuk barang kerajinan lainnya.
II. Kegiatan Budidaya Kerang Abalone
Kegiatan Budidaya Kerang Abalon meliputi : Pemeliharaan dan seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, pemanenan larva, kultur pakan alami, pembesaran.
A. Pemeliharaan dan Seleksi Induk
Wadah pemeliharaan induk terbuat dari bak beton dengan volume 1,5 m3 dengan padat tebar 200-300 induk/bak. Sumber induk berasal dari alam dengan cara para penangkap menyelam dengan kedalaman 2-3 meter atau pada saat air laut surut pada pagi hari.
Syarat abalone yang akan dijadikan induk dalam kegiatan pembenihan perlu dilakukan pengamatan. Induk abalone yang sehat dapat kita lihat dari warna tubuh kerang abalone dan tidak terserang hama penyakit dan gerakannya sangat agresif.
Penanganan induk, dalam penanganan induk kerang abalone baik jantan maupun betina harus dipelihara terpisah untuk menghindari spontaniosis spawning atau biasa disebut mijah maling.
Seleksi induk, syarat-syarat induk berkualitas: ukuran cangkang >5cm, sehat, tanpa cacat atau luka, perbedaan jantan dan betina (jantan gonadnya berwarna cream/putih sedangkan betina warna gonadnya hijau/cokelat kadang kebiruan.
Pengecekan gonad dilakukan 3 hari sebelum bulan gelap dan bulan terang dan tingkat kematangan gonadnya minimal untuk dipijahkan 75%
B. Pemijahan
Wadah pemijahan : Aquarium volume 80-100 liter yang dilengkapi dengan thermometer, aerasi dan haeter otomatis. Pemijahan alamiah terjadi pada saat bulan terang dan gelap, pemijahan terjadi antara tengah malam sampai dini hari yaitu pukul 23.00-06.00 pagi, dengan proses pemijahan induk jantan mengeluarkan sperma 45-60 menit kemudian diikuti oleh induk betina mengeluarkan telur dengan perbandingan 1:3
Telur abalone berwarna hijau, telur yang terbuahi mengendap didasar bak dengan diameter 100 micron. Pemanenan telur dilakukan pada saat kegiatan pemijahan selesai, telur yang terbuahi disiphon dengan menggunakan selang (0,5-0,75 inch) dan saringan mesh size 60 mikron.
Setelah dibuahi, telur diinkubasi pada wadah inkubasi sampai menetas menjadi trochopora dalam waktu 10-12 jam. Trochopora kemudian dipanen dengan cara disiphon dilakukan pada pagi hari. Setelah Trochopora dipanen kemudian ditebar dengan padat penebaran untuk bak vol 1,5 ton 300.000-500.000 ekor. Penebaran dilakukan pada bak pemeliharaan larva yang dilengkapi dengan feeder plate yang mengandung Nitzchia. Trochopora akan melayang dalam badan air selama 4-7 hari kemudian menempel pada feeder plate.
C. Pemeliharaan larva
Kegiatan pemeliharaan larva meliputi : Penyiapan pakan awal larva, Pemeliharaan larva (stadia trochopora, veliger, torson, settlemen), dan Pemanenan larva.
Persiapan pakan alami untuk larva, Plankton adalah pakan alami yang disediakan melalui kultur di wadah terkontrol. Kultur plankton ada 3 tahapan: Skala Laboratorium, Semi Massal, dan Skala Massal. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan plankton: nutrien yng dibutuhkan, suhu, salinitas, pH, morfologi dan intensitas cahaya. Species plankton yang biasa dibudidaya-kan untuk larva yaitu: Nannochloropsis sp,Dunaliella salina, Pavlova sp, Isocrysis galbana, Isocrysis tahiti, Tetraselmis chuii, Nitzschia sp, Chaetoceros simplex, Chaetoceros gracillis. Pemberian pakan dengan pakan alami tersebut di atas biasanya diberikan sehari 3 kali. Untuk tingkat consentrasi pakan alami tsb. minimal 10 ekor/cc plankton yang selalu tersedia pada bak pemeliharaan larva. Pemanenan larva abalone dilakukan pada umur 3-4 bulan karena lebih aman dilakukan ukuran benihnya sudah berkembang.
D. Pembesaran Abalone
Kegiatan pembesaran abalone meliputi: Persiapan Wadah, Penebaran Benih, Pemberian Pakan, Pengelolaan Kualitas Air, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit, Sampling Biomassa, Pemanenan.
E. Persiapan Wadah
Kegiatan Pembesaran Abalone dengan Metode Keramba Jaring Apung. Satu unit KJA pemeliharaan bisa dipelihara lebih dari 1 spesies : monoculture dan integrated.
Untuk penempatan satu unit KJA harus memanjang melawan ombak dan arah angin, arah arus menyamping dari arah rakit, hal ini bertujuan untuk melancarkan sirkulasi air dalam jaring
F. Benih siap tebar untuk budidaya Abalone
G. Penebaran Benih
H. Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan adalah rumput laut , dengan cara : Pakan diberikan 4-5 hari sekali 2-3kg/unit wadah. Apabila bau busuk, karena mengandung bahan beracun (NH3 dan H2S) maka dilakukan pengontrolan, pakan yang busuk diganti baru.
I. Pengelolaan Kualitas Air
J. Pemanenan
III. PENUTUP
Informasi budidaya abalone secara singkat ini semoga bermanfaat, terutama pada daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan budidaya abalone. Akhirnya jika para pembaca/para guru/ pelaku budidaya abalone memiliki pengalaman yang lebih, mohon sharing pengalaman, kirimkan kepada redaksi.
Negara Indonesia adalah negara kepulauan, 2/3 wilayahnya terdiri dari perairan. Hingga saat ini banyak Sekolah Perikanan dan kelautan yang mengelola unit produksi budidaya ikan laut, diantaranya adalah budidaya kerang abalone, sehingga sangat penting informasi ini untuk diketahui kepada para guru dan pelaku unit produksi kerang tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, budidaya Abalone berkembang dengan pesat di Indonesia. Salah satu jenis Abalone yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah Abalone mata tujuh (Haliotis assinina). Indonesia merupakan daerah yang cocok untuk perkembangan abalone mata tujuh (Haliotis assinina).
Daging abalone mempunyai gizi yang cukup tinggi dengan kandungan protein 71,99%; lemak 3,20%; serat 5,60%, abu 11,11%; dan kadar air 0,60% serta cangkangnya dapat digunakan untuk perhiasan, pembuatan kancing baju dan berbagai bentuk barang kerajinan lainnya.
II. Kegiatan Budidaya Kerang Abalone
Kegiatan Budidaya Kerang Abalon meliputi : Pemeliharaan dan seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, pemanenan larva, kultur pakan alami, pembesaran.
A. Pemeliharaan dan Seleksi Induk
Wadah pemeliharaan induk terbuat dari bak beton dengan volume 1,5 m3 dengan padat tebar 200-300 induk/bak. Sumber induk berasal dari alam dengan cara para penangkap menyelam dengan kedalaman 2-3 meter atau pada saat air laut surut pada pagi hari.
Syarat abalone yang akan dijadikan induk dalam kegiatan pembenihan perlu dilakukan pengamatan. Induk abalone yang sehat dapat kita lihat dari warna tubuh kerang abalone dan tidak terserang hama penyakit dan gerakannya sangat agresif.
Penanganan induk, dalam penanganan induk kerang abalone baik jantan maupun betina harus dipelihara terpisah untuk menghindari spontaniosis spawning atau biasa disebut mijah maling.
Seleksi induk, syarat-syarat induk berkualitas: ukuran cangkang >5cm, sehat, tanpa cacat atau luka, perbedaan jantan dan betina (jantan gonadnya berwarna cream/putih sedangkan betina warna gonadnya hijau/cokelat kadang kebiruan.
Pengecekan gonad dilakukan 3 hari sebelum bulan gelap dan bulan terang dan tingkat kematangan gonadnya minimal untuk dipijahkan 75%
B. Pemijahan
Wadah pemijahan : Aquarium volume 80-100 liter yang dilengkapi dengan thermometer, aerasi dan haeter otomatis. Pemijahan alamiah terjadi pada saat bulan terang dan gelap, pemijahan terjadi antara tengah malam sampai dini hari yaitu pukul 23.00-06.00 pagi, dengan proses pemijahan induk jantan mengeluarkan sperma 45-60 menit kemudian diikuti oleh induk betina mengeluarkan telur dengan perbandingan 1:3
Telur abalone berwarna hijau, telur yang terbuahi mengendap didasar bak dengan diameter 100 micron. Pemanenan telur dilakukan pada saat kegiatan pemijahan selesai, telur yang terbuahi disiphon dengan menggunakan selang (0,5-0,75 inch) dan saringan mesh size 60 mikron.
Setelah dibuahi, telur diinkubasi pada wadah inkubasi sampai menetas menjadi trochopora dalam waktu 10-12 jam. Trochopora kemudian dipanen dengan cara disiphon dilakukan pada pagi hari. Setelah Trochopora dipanen kemudian ditebar dengan padat penebaran untuk bak vol 1,5 ton 300.000-500.000 ekor. Penebaran dilakukan pada bak pemeliharaan larva yang dilengkapi dengan feeder plate yang mengandung Nitzchia. Trochopora akan melayang dalam badan air selama 4-7 hari kemudian menempel pada feeder plate.
C. Pemeliharaan larva
Kegiatan pemeliharaan larva meliputi : Penyiapan pakan awal larva, Pemeliharaan larva (stadia trochopora, veliger, torson, settlemen), dan Pemanenan larva.
Persiapan pakan alami untuk larva, Plankton adalah pakan alami yang disediakan melalui kultur di wadah terkontrol. Kultur plankton ada 3 tahapan: Skala Laboratorium, Semi Massal, dan Skala Massal. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan plankton: nutrien yng dibutuhkan, suhu, salinitas, pH, morfologi dan intensitas cahaya. Species plankton yang biasa dibudidaya-kan untuk larva yaitu: Nannochloropsis sp,Dunaliella salina, Pavlova sp, Isocrysis galbana, Isocrysis tahiti, Tetraselmis chuii, Nitzschia sp, Chaetoceros simplex, Chaetoceros gracillis. Pemberian pakan dengan pakan alami tersebut di atas biasanya diberikan sehari 3 kali. Untuk tingkat consentrasi pakan alami tsb. minimal 10 ekor/cc plankton yang selalu tersedia pada bak pemeliharaan larva. Pemanenan larva abalone dilakukan pada umur 3-4 bulan karena lebih aman dilakukan ukuran benihnya sudah berkembang.
D. Pembesaran Abalone
Kegiatan pembesaran abalone meliputi: Persiapan Wadah, Penebaran Benih, Pemberian Pakan, Pengelolaan Kualitas Air, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit, Sampling Biomassa, Pemanenan.
E. Persiapan Wadah
Kegiatan Pembesaran Abalone dengan Metode Keramba Jaring Apung. Satu unit KJA pemeliharaan bisa dipelihara lebih dari 1 spesies : monoculture dan integrated.
Untuk penempatan satu unit KJA harus memanjang melawan ombak dan arah angin, arah arus menyamping dari arah rakit, hal ini bertujuan untuk melancarkan sirkulasi air dalam jaring
F. Benih siap tebar untuk budidaya Abalone
- Ukuran benih relatif seragam yaitu 1 cm/ekor (ukuran panjang cangkang) atau lebih.
- Telah mampu memanfaatkan pakan rumput laut segar sebagai makanannya, seperti Gracilaria sp .
- Sensitif terhadap respon dari luar, benih abalone yang sehat karena akan cepat merespon ransangan dari luar.
- Abalone cenderung melekat kuat pada substrat jika disentuh, jika direndam dalam air tawar akan mengkerut dan mengeras, dikembalikan ke air laut akan cepat melakukan pergerakan .
- Jika dipegang terasa kenyal dan padat tidak lemas .
- Cangkang tidak pecah atau cacat dan tidak terdapat luka pada bagian badan/daging.
G. Penebaran Benih
- Pemeliharaan di Keramba Jaring Apung dengan padat tebar tinggi karena adanya sirkulasi air setiap saat sehingga kualitas air lebih terjamin.
- integrated dengan kerapu padat tebar 200-300 ekor/waring (1x1x1m3).
- monoculture padat tebar 100 ekor/ waring (0.5x1x1m3).
- Pemilihan benih yang berkualitas .
- Aklimatisasi 15 – 20 menit .
- Ditebar .
H. Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan adalah rumput laut , dengan cara : Pakan diberikan 4-5 hari sekali 2-3kg/unit wadah. Apabila bau busuk, karena mengandung bahan beracun (NH3 dan H2S) maka dilakukan pengontrolan, pakan yang busuk diganti baru.
I. Pengelolaan Kualitas Air
- Pengelolaan dilakukan dengan penggantian wadah atau waring setiap sebulan sekali.
- Organisme penempel di waring perlu dibersihkan agar tidak mengganggu kondisi perairan pemeliharaan abalone.
- Waring lama diangkat dan diganti waring baru.
- Pengontrolan pakan yang busuk karena mengandung NH3 yang menempel.
J. Pemanenan
- Ukuran cangkang diatas 8 cm dengan berat 30-40gr.
- Dilakukan secara selektif.
- Di packing dalam kantung plastik berisi air dan diberikan Garcillaria sp.
- Kepadatan 20-25 ekor/kantung volume 25 L.
- Dimasukkan dalam kotak styrofoam (27x45x30 cm) muat 2 kantung, kemudian diberikan es batu diluar kantung.
- Untuk transportasi > 13 jam kepadatan dikurangi.
III. PENUTUP
Informasi budidaya abalone secara singkat ini semoga bermanfaat, terutama pada daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan budidaya abalone. Akhirnya jika para pembaca/para guru/ pelaku budidaya abalone memiliki pengalaman yang lebih, mohon sharing pengalaman, kirimkan kepada redaksi.